Wednesday, January 11, 2017

Andalkan Produk Pangan Organik Lokal Demi Kesegaran


Bahan Pangan hasil Pertanian Organik Dipasarkan dengan Teknologi Komunikasi

Andalkan Produk Pangan Organik Lokal Demi Kesegaran


Yang di maksud dengan Organik di sini adalah produk tanaman yang tidak melibatkan unsur pestisida dan pupuk buatan yang dinilai membahayakan bagi kesehatan tubuh.
Sadar akan pentingnya hidup sehat sudah menjadi tren  dan tumbuh berkembang pada masyarakat yang hidup di kota-kota besar, terutama bagi mereka yang tak bisa terhindar dari polusi, berupa udara dan air.

Cuma disayangkan, untuk bisa mendapatkan bahan pangan organik ini hanyalah kalangan masyarakat yang memiliki kantong tebal, mengingat harga bahan pangan organik yang cukup mahal di bandingkan dengan bahan pangan nonorganik yang di jual di pasar-pasar tradisional, harganya bisa mencapai 200% lebih tinggi dari pada bahan pangan nonorganik.
Misalnya saja seikat sayur kangkung, bisa mencapai harga Rp. 4.000, pada hal harga yang tanpa embel-embel organik hanya sekitar Rp. 1.500 per ikat, bisa di tawar lagi kalau pesan banyak.
Harga pangan organik yang lebih mahal rasanya memang wajar-wajar saja, karena dalam produksinya tidaklah banyak dan juga lama proses produksi mulai dari tanam sampai panen memakan waktu lebih lama. Lain halnya dengan produk non organik yang volume produksi serta waktu proses yang relatif lebih cepat.

Selain proses produksi yang lama dan proses pendistribusiannya juga termasuk lama menjadi faktor utama yang membuat harga produk organik jauh lebih mahal. Coba Bayangkan, sebelum bahan pangan organik sampai ke tangan konsumen, produk organik ini harus melalui banyak tangan, yaitu dari pengepul ke pedagang, dari pedangan lalu ke pasar kulakan, kemudian baru dari pasar atau kios bahan pangan organik  sampai ke tangan konsumen.

Potong rantai produksi

Melihat persoalan pendistribusian yang panjang tersebut munculah ide  Tantyo Bangun untuk memasarkan langsung ke konsumen dengan mengunakan fasilitas teknologi komunikasi yang berbasis jaringan internet. Maka Tantyo Bangun membuat situs dengan nama kecipir.com pada April 2015 dengan tujuan untuk memotong rantai distribusi yang panjang dan waktu yang lama.

“Kecipir merubah rantai distribusi, sehingga para petani dan konsumen bisa terhubung langsung lewat situs Kecipir.
Dengan rantai distribusi yang lebih singkat tersebut, baik petani maupun konsumen sama-sama mendapatkan keuntungan baik harga maupun kecepatan antar pesanan. Petani bisa menjual dengan harga lebih tinggi jika dibandingkan dengan menjualnya ke tengkulak.

Sementara itu, konsumen bisa membeli dengan harga lebih rendah dari pada harga di supermarket, hingga 50 persennya.
Disamping itu keuntungan lain dari sistem yang dibangun Kecipir juga memungkinkan konsumen akan menerima produk dalam keadaan segar. Hal ini dikarenakan bahwa Kecipir hanya memasarkan produk organik dari petani atau petemak lokal yang lokasinya tidak lebih dari 100 kilometer (km) dari lokasi konsumen.

Oleh sebab itu, Kecipir bisa menjamin konsumen bisa menerima pesanannya, maksimal 24 jam setelah jadwal pengiriman. Bandingkan dengan sayuran atau buah-buahan di supermarket yang mungkin telah berumur lebih dari satu hari. “Local organic, fresh merupakan pinsip Kecipir.
Kekurangan Kecipir dibandingkan dengan supermarket, konsumen tidak bisa langsung menerima barang yang diinginkan. Sebab, setelah memesan, ia harus menunggu dulu sesuai hari pengiriman yang dia pilih.

Biar lebih jelas. di Kecipir, konsumen harus terlebih dulu mendaftar ke situs Kecipir. com atau aplikasi mobile Kecipir yang dapat diunduh secara gratis di smartphone berbasis Android dan iOS. Setelah itu, ia bisa memesan produk kapan pun ia kehendaki.

Caranya cukup mudah, konsumen memasukkan username serta password ke dalam kolom yang sudah tersedia di situs atau aplikasi Kecipir. Konsumen lalu memilih jadwal pengiriman yang dikehendaki. Dari situ, konsumen bisa melihat produk-produk yang tersedia untuk waktu pengiriman tersebut. 

Contoh Budidaya Pertanian Organik

Secara substansi pertanian organik bukanlah barang baru. Sebelum ditemukan pupuk dan obat-obatan kimia sintetis, bisa dikatakan semua kegiatan produksi pertanian merupakan pertanian organik.

Adalah Sir Albert Howard, seorang ahli botani asal Inggris, yang mengagas pertanian organik secara lebih sistemastis. Bukunya yang terbit pada tahun 1940, berjudul “An Agricultural Testament”, telah menginspirasi gerakan pertanian organik diberbagai belahan bumi. Atas alasan itu, dia disebut-sebut sebagai bapak pertanian organik.

Di Indonesia pertanian organik mulai populer di era 80-an. Dimana gerakan revolusi hijau yang digagas pemerintah pada akhir tahun 70-an mulai menunjukkan dampak negatifnya. Penggunaan pupuk dan obat-obatan kimia dituduh sebagai pemicu kerusakan lingkungan pertanian dan kesehatan manusia.

Ada banyak dasar pemikiran yang memotivasi seorang petani mempraktekkan pertanian organik. Praktek yang paling ekstrim bahkan sangat meminimalkan intervensi manusia. Petani hanya bertugas sebagai penebar benih dan pemetik hasil saja. Ada juga yang sangat longgar, masih mentoleransi penggunaan bahan-bahan kimia sintetis tertentu apabila diperlukan.

Berdasarkan penulusuran tim alamtani terhadap praktek-praktek pertanian organik, setidaknya terdapat kaidah-kaidah utama yang harus dipatuhi. Berikut uraian singkatnya:
Penyiapan lahan

Lahan untuk pertanian organik harus terbebas dari residu pupuk dan obat-obatan kimia sintetis. Proses konversi lahan dari pertanian konvensional ke pertanian organik membutuhkan waktu setidaknya 1-3 tahun. Selama masa transisi, produk pertanian yang dihasilkan belum bisa dikatakan organik karena biasanya masih mengandung residu-residu kimia.

Hal lain yang harus diperhatikan adalah lingkungan disekitar lahan. Pencemaran zat kimia dari kebun tetangga bisa merusak sistem pertanian organik yang telah dibangun. Zat-zat pencemar bisa berpindah ke lahan organik kita karena dibawa oleh air dan udara.

Selain zat pencemar, pemakaian obat-obatan dari kebun tetangga bisa menyebabkan hama dan penyakit lari ke lahan pertanian organik. Tentunya hama akan mencari lahan-lahan yang bebas racun, dan sialnya kebun organik akan menjadi sasaran empuk.

Untuk menyiasati hal tersebut, bisa menggunakan tanaman pagar. Beberapa jenis tanaman pagar memiliki kemampuan sebagai penyerap bau, bahan kimia, dan pengusir hama. Selain itu, hijauan dari tanaman pagar bisa digunakan sebagai bahan pupuk organik.
Kondisi pengairan

Kondisi pengairan atau irigasi menjadi penentu juga dalam pertanian organik. Akan menjadi sia-sia apabila kita menerapkan pertanian organik sementara air yang mengaliri lahan kita banyak mengandung residu bahan kimia. Tentunya lahan kita beresiko tercemar zat-zat tersebut. Pada akhirnya produk pertanian organik kita tidak steril dari racun-racun kimia.

Untuk mengakali hal ini, pilih lahan yang mempunyai pengairan langsung dari mata air terdekat. Kalau sulit kita bisa mengambil air dari saluran irigasi yang agak besar. Kadar residu kimia dalam saluran air yang besar biasanya sangat rendah, dan airnya masih bisa digunakan untuk pertanian organik. Hindari mengambil air dari limpahan kebun atau sawah konvensional.

Selain itu, bisa juga dibuat unit pemurnian air sendiri. Air dari saluran irigasi ditampung dalam sebuah kolam yang telah direkayasa. Kemudian air keluaran kolam dipakai untuk mengairi kebun organik.
Penyiapan benih tanaman

Benih yang digunakan dalam pertanian organik harus berasal dari benih organik. Apabila benih organik sulit didapatkan, untuk tahap awal bisa dibuat dengan memperbanyak benih sendiri. Perbanyakan bisa diambil dari benih konvensional.

Caranya dengan membersihkan benih-benih tersebut dari residu pestisida. Untuk menjadikannya organik, tanam benih tersebut lalu seleksi hasil panen untuk dijadikan benih kembali. Gunakan kaidah-kaidah pemuliaan dan penangkaran benih pada umumnya.

Jangan mengawetkan benih dengan pestisida, fungisida atau hormon-hormon sintetis. Gunakan metode tradisional untuk mengawetkannya. Benih yang dihasilkan dari proses ini sudah bisa dikatakan benih organik.

Hal yang perlu dicatat, benih hasil rekayasa genetika tidak bisa digunakan untuk sistem pertanian organik.
Pupuk dan penyubur tanah

Pemupukan dalam pertanian organik wajib menggunakan pupuk organik. Jenis pupuk organik yang diperbolehkan adalah pupuk hijau, pupuk kandang, pupuk kompos dan variannya, serta pupuk hayati. Untuk mengetahui lebih detailnya silahkan baca jenis-jenis pupuk organik.

Pertanian organik juga bisa menggunakan penyubur tanah atau disebut juga pupuk hayati. Penyubur tanah ini merupakan isolat bakteri-bakteri yang bisa memperbaiki kesuburan tanah. Saat ini pupuk hayati banyak dijual dipasaran seperti EM4, Biokulktur, dll. Pupuk hayati juga bisa dibuat sendiri dengan mengisolasi mikroba dari bahan-bahan organik.

Dalam permentan bahan-bahan tambang mineral alami seperti kapur dan belerang masih ditoleransi untuk digunakan pada pertanian organik. Berikut daftar bahan mineral yang bisa digunakan dalam pertanian organik:
  •     Dolomit
  •     Gipsum
  •     Kapur khlorida
  •     Batuan fosfat
  •     Natrium klorida
Demikian semoga terinspirasi.