Tuesday, July 10, 2018

Peluang Bisnis Entrepeneur Yang Berkilau di Bisnis Kurir


"Kalau kita punya niat baik, ketulusan, kemauan kuat dalam mendirikan usaha, usaha itu akan maju. Setidak-tidaknya kita bisa menghidupi diri sendiri secara lebih bagus ketimbang terus bekerja sebagai karyawan dengan kenaikan gaji per tahunnya paling tinggi sebesar 20%."

Budiyanto Darmastono, Pengusaha, Presiden Direktur PT Nusantara Card Semesta

Sesekali kalau Anda melewati Jl. Bridjen Katamso, Jakarta, tak jauh dari Mai Slipi Jaya ke arah Tanah Abang, di sebelah kiri jalan Anda akan melihat Gedung NCS yang desainnya cukup artistik dan modern. Gedung berlantai delapan yang hingga larut malam masih sering di padati mobil ini merupakan kantor pusat perusahaan city courier ternama di Indonesia, yakni PT Nusantara Card Semesta (NCS), yang memiliki jaringan cabang dan pelayanan hingga ke seluruh provinsi di Indonesia. Secara total PT NCS mempekerjakan 2.700 orang karyawan, termasuk tenaga kurir, untuk melayani sekitar 300 perusahaan klien yang sebagian besar perusahaan perbankan, asuransi, dan telekomunikasi.

Sementara NCS baru dikembangkan 10 tahun lalu, namun dalam rentang 10 tahun itu NCS sudah sanggup menjadi pemain terkemuka di industrinya dengan memperkerjakan ribuan orang. Tiap tahun penjualan NCS tumbuh di atas rata-rata pertumbuhan industrinya.

Jelas, kisah entrepreneurship di balik sukses NCS ini sangat menarik untuk disimak dan dipelajari. Apalagi, selaku pendiri dan perintis NCS, Budiyanto juga membangun perusahaan ini dari ketiadaan. NCS didirikan dengan modal uang yang minimal. NCS merupakan bisnis yang 100% dikembangkan oleh Budiyanto sendiri, bukan bisnis warisan orangtuanya kedua orang tuanya bukan pengusaha. Sudah pasti, banyak pelajaran yang bisa dipetik dari pengalaman dan kiat bagaimana Budiyanto mengembangkan usahanya dari titik nadir ini, bagaimana ia memulai dan mengembangkan pasarnya, serta membangun organisasi perusahaan.

"Lalu kira-kira apa bisnis yang bisa saya seriusi dan bisa berkembang menjadi bisnis yang besar?" Untuk pertanyaan penting ini, Budiyanto kemudian menemukan jawabannya, yakni bisnis city courier. Perusahaan dry courier adalah perusahaan kurir yang fokusnya mengirimkan antaran (dokumen dan barang ringan) dalam kota.


Sekadar informasi, di bisnis kurir ada beberapa tipe jenis perusahaan. Ada yang bergerak di bidang international courier yang biasa me-lakukan pengantaran dokumen lintas negara, lalu domestik (national courier) yang melakukan pengantaran hingga di semua pelosok dalam satu negara. Sedangkan dry courier biasanya lebih fokus di bisnis pengantara dokumen di kota-kota besar saja, hanya saja di sini dibutuhkan kecepatan dan tingkat penetrasi kurir yang lebih rapat. Perusahaan city courier biasanya dibutuhkan perusahaan-perusahaan penerbit kartu kredit, perusahaan telko (operator ponsel), restoran-restoran, serta perusahaan yang punya data base costumer massal dan butuh pengiriman dokumen dalam jumlah banyak (ribuan), misalnya surat tagihan, kartu kredit, rekening koran, brosur, majalah, paket, dokumen, pengiriman reward, dll.

Kembali ke Budiyanto, pilihannya untuk masuk di bisnis kurir didukung alasan dan analisis tertentu. Saat masih bekerja di bagian accounting di Dinners Club—tepatnya di bagian audit—Budiyanto mengamati ternyata anggaran yang dikeluarkan perusahaan kartu kredit untuk membayar perusahaan kurir cukup besar alias signifikan. Budiyanto mengetahuinya secara persis karena tiap bulan selalu ada invoice (tagihan) dari berbagai mitra kerja perusahaannya yang otomatis diketahuinya karena menjadi bagian dari tugasnya sebagai auditor. "Saya lihat si kurir ini bisnisnya lumayan bagus. Pembayarannya juga lumayan lancar," kenangnya.

Budiyanto kemudian mencari tambahan informasi seputar potensi bisnis kurir itu kalau-kalau memang menarik. Ia lalu menelusuri kira-ki-ra siapa-siapa saja pemain yang sudah berkecimpung di dalamnya. Dari situ ia tahu kalau ternyata pemain city courier masih sangat sedikit saat itu. 'Terus saya amati ternyata untuk menjalankan bisnis ini modal awalnya nggak besar. Prinsipnya, yang penting kita bisa punya tempat, bisa rekrut karyawan hingga jumlah tertentu untuk tenaga kurir dan punya jaringan kerja sama ke daerah-daerah untuk pengiriman," Budiyanto menceritakan kiatnya saat memulai usahanya.

Apalagi saat itu ia melihat peluang bisnis city courier untuk berkembang cukup terbuka karena banyak bank gencar membentuk divisi card center untuk memasarkan bisnis pembiayaan melalui kartu kredit. Waktu itu jumlah bank yang punya card center belum banyak namun memang sedang mengarah ke perkembangan yang pesat tidak seperti sekarang di mana hampir semua bank sudah memiliki card center. Belum lagi bisnis telekomunikasi seluler juga mulai berkembang walaupun dulu belum ada handphone karena yang kebanyakan yang dipakai adalah pager. "Saya lihat peluang untuk masuk di city courier saat itu sangat bagus," katanya. Setelah melalui pengamatan mendalam, ter¬utama melihat tingkat persaingan dan potensi pasarnya, Budiyanto berkesimpulan untuk segera masuk di bisnis kurir.

Sebenarnya begitu berkesimpulan akan terjun di bisnis kurir, Budiyanto ingin sekali segera mengundurkan diri (resign) dari Dinners Club. Namun, istrinya melarang dengan alasan belum ada kepastian pendapatan bulanan bila Budiyanto langsung keluar begitu saja. Istrinya menilai bahwa tindakannya terlalu berisiko. Solusinya, bisnis kurir ini dimulai namun secara resmi yang menjalankan istri. "Sebenarnya dikelola bareng tapi karena saya masih terikat kerja di Dinners Club otomatis istri yang mengurusi sehari-hari," Budiyanto menceritakan kiatnya saat memulai.

Toh demikian, untuk melakukan presentasi dalam rangka mencari para pelanggan baru, Budiyanto selalu ikut dan melakukan presentasi istrinya tidak punya pengalaman kerja di bidang kurir atau pengiriman. Budiyanto selalu ikut karena harus menjelaskan secara detail apa yang bisa diberikan pihaknya sebagai pemain baru, keunggulannya dan sistem pelayanannya yang akan bisa membantu klien.


Ada kiat unik yang dijalankan Budiyanto saat memulai usaha karena ia harus pintar-pintar membagi waktu. "Ketika akan presentasi untuk mencari klien, saya sering minta izin tidak masuk kerja alias cuti di Dinners Club. Jadi, kalau akan ketemu calon klien, kerjanya libur dulu karena sayalah yang harus melakukan presentasi untuk mencari klien," katanya. Saat presentasi biasanya Budiyanto selalu berdua dengan istri. Dalam kartu namanya, Budiyanto menyebut dirinya sebagai direktur utama dan istrinya sebagai direktur marketing. "Saya kalau ingat masih sering tertawa sendiri, dulu waktu memulai orang mengiranya istri saya adalah karyawan saya atau sekretaris saya. Karena saya memang tidak mengenalkan dia sebagai istri."

Cara Budiyanto pindah kuadran dari kuadran profesional (karyawan) ke kuadran entrepreneur ini tentu layak dicontoh karena ia tidak melakukannya secara konyol. Dalam artian, sebelum keluar dari tempat kerja lamanya untuk betul-betul fokus menggeluti dunia entrepreneur ia pertimbangkan dulu secara matting bagaimana kemampuannya, bagaimana peluang dan prospek ke depannya. juga, caranya pun tidak emosional dengan langsung keluar dari perusahaan lama. Ia melakukan uji pasar dulu dengan bantuan peran istri, setelah melihat potensi perkembangannya bagus, baru ia all out untuk masuk di dunia entrepreneur. Hal ini perlu dicontoh karena dalam praktik banyak sekali entrepreneur pemula yang karena didorong semangat menggebu untuk menjadi pengusaha, namun melupakan obyektivitas, akal sehat, dan kesabaran. Jadi, mereka srudak-sruduk sehingga malah tidak berhasil.